Sejarah

A. Pada zaman keemasan kerajaan Mataram, dibawah pemerintahan Sultan Agung, ada 4 (empat) orang pengembara dari daerah Serang (Banten) Jawa Barat datang diwilayah Mataram. Keempat bersaudara itu bernama Ki Ageng Serang Kusuma, Ki Ageng Barat Ketiga, Ki Ageng Bang Sri dan Nyi Ageng Jepara.

Ki Ageng Serang Kusuma dan Ki Ageng Barat Ketiga membuat tempat hingga tinggal didaerah Batur, Ceper, Klaten.

Sebagai cikal bakal desa, maka makam Ki Ageng Serang Kusuma dan Ki Ageng Barat Ketiga sampai sekarang masih dimuliakan penduduk Batur.

Ki Ageng Serang Kusuma hidup sebagai empu cor yang membuat kejen (mata bajak). Sedangkan Ki Tampir yang membuka Dukuh Tampiran (sebelah Utara Batur) adalah tukang cor abdi dalem Ki Ageng Serang Kusuma.

Suatu ketika Sultan Agung keluar dari Istana, setelah mendapat wangsit bahwa putera mahkota Kerajaan Mataram yang sedang sakit, hanya akan dapat sembuh apabila mendapat ketupat berkah dari seorang pedagang keliling.

Sultan Agung bertemu dengan Ki Ageng Barat Ketiga dan langsung memesan ketupat berkah yang akan dijadikan obat. Ki Ageng Barat Ketiga pergi, tak lama kemudian sudah kembali bersembah membawa ketupat dari Mekkah yang masih hangat. Karena kecepatan jalan Ki Ageng itulah maka Sultan lalu memberi gelar Ki Ageng Barat Ketiga, sebab mampu berjalan secepat barat (angin) dimusim ketiga (kemarau).

Sementara itu Nyi Ageng Jepara meneruskan penggembaraannya dan kawin dengan Ki Ageng Jepara.

Ki Ageng Bang Sri terus ketimur membuka tanah Magetan atau Kabupaten Magetan sekarang. Disana ia membuka besaken cor besi yang juga membuat kejen (mata bajak). Sampai sekarang desa Magetan di kabupaten Magetan, masih dikenak cornya yang menghasilkan kejen tersebut.

Tetapi karena pengrajin Magetan terlalu tradisional, maka perusahaan mereka tidak berkembang seperti didaerah Batur, Ceper, Klaten.

 

B. Dari Besalan ke Dapur Tungkik

Pengrajin yang tertua tentu saja masih amat sederhana prosesnya. Tungku peleburan besi tersebut bernama BESALEN. Besalen berwujud tobong batu bata yang berbentuk pipa. Pada dasarnya diberi kowen yang berbentuk cangkir dari bahan tanah yang didatangkan khusus dari desa Byat, Kabupaten Klaten. Sebab pada waktu itu, tanah dari daerah lain tidak bisa dipergunakan untuk membuat kowen (kowi) tersebut.

Sebagai bahan bakar pengecorannya, berupa arang kayu kesambi. Setelah dibakar kemudian dihembuskan dari ububan yang klepnya terbuat dari kulit kerbau. Bentuk ububan besalen sama dengan ububan pande besi biasa tetapi posisinya tidak berdiri melainkan mendatar (ditidurkan).

Untuk mencairkan (melebur) besi cor pada waktu itu diperlukan waktu ± 7 jam terus menerus.

Kapasitas pengecoran dalam 1 (satu) hari adalah satu dacin atau 62,5 kilogram.

Pengecoran dengan menggunakan besalen, berlangsung ratusan tahun. Pada waktu itu saling membantu secara gotong royong. Siapa yang akan mengecor, membunyikan kenthongan dan seketika masyarakat desa membantunya tanpa dibayar upah sama sekali.

 

C. Zaman Pemarintahan Hindia Belanda.

Dengan didirikannya Pabrik Gula dan Karung Goni, maka para pengusaha cor (home industri) didaerah Batur telah mulai dipesani komponen-komponen (suku cadang) pabrik-pabrik tersebut dalam arti komponen yangsangat sederhana.

 

D. Zaman Jepang

Yang sangat besar pengaruhnya adalah pada zaman Jepang. Para pengusaha cor logam diperintah secara paksa supaya bersedia membuat longsongan granat untuk kebutuhan perang.

Pada waktu ini para pengusaha cor banyak yang menyatakan tidak bersedia mengerjakannya akan tetapi karena terus dipaksa dan diawasi secara ketat maka bagaimanapun juga harus bersedia walaupun sesungguhnya bertentangan dengan pikiran dan perasaan mereka yang mayoritas memeluk agama Islam.

 

 

E. Zaman Kemerdekaan

Tepatnya pada tahun 1953 mulai ada pesanan alat-alat pertanian yang masuk kedaerah Batur, Ceper, Klaten. Agar mendapat hasil produksi sesuai pesanan, maka Dinas Perindustrian memberikan bimbingan modernisasi peralatan ububan berupa Blower dengan baling-baling yang digerakkan dengan menggunakan mesin Diesel.

Tentu saja bentuk besalennya harus dirubah dan disesuaikan dengan pemakaian Blower tersebut. Maka terciptakanlah open / dapur tungkik yaitu suatu modifikasi dari dapur kupola yang terbuat dari bahan plat baja berbentuk silinder. Pada bagian dalam dilapisi batu tahan api. Diameter dapur tungkik tersebut berkisar antara 65 cm dan tingginya ± 200 cm.

Dengan modernisasi open / dapur tungkik, maka keadaan industri rumah tangga (home industri) maju selangkah. Kemudian yang lain ikut berbuat yang sama.

Di daerah Batur, Ceper, Klaten masih ada satu besalen, sedangkan pada umumnya sekarang ini pengusaha-pengusaha cor logam telah memiliki open / dapur tungkik tersebut.

Mulai tahun 1993, beberapa pengusaha cor logam di daerah Batur, Ceper, Klaten telah banyak berkembang dan telah menggunakan Dapur Kupola yang lebih modern.

 

Seperti halnya Unit Pengecoran Logam yang terletak didaerah Batur, Kal.Tegalrejo, Kec.Ceper, Kabupaten Klaten dengan pengusaha 100% pribumi, maka pemerintah pada tahun 1973 telah merintis untuk mewujudkan Lembaga apa yang bisa dibentuk untuk mewadahi secara keseluruhan para pengusaha cor logam di Sentra Batur yang jumlahnya pada waktu itu ± 103 pengusaha yang sebelumnya telah memiliki beberapa organisasi yang berpusat di Batur.

Adapun organisasi tersebut antara lain :

  1. Koperasi Cor Logam “PRASODJO” yang telah berbadan hukum tahun 1962 dengan bentuk Koperasi Produksi.
  2. Koperasi G.P3.T. Organisasi ini berbentuk gabungan dan usahanya adalah mengusahakan bahan baku untuk anggota.

 

Di saat pemerintah merintis Lembaga yang fungsinya untuk mengkoordinir para pengusaha cor logam, kedua organisasi ini telah lama tidak menampakkan kegiatannya lagi.

Adapun perintisan pemerintah yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :

  1. Perintisan pemerintah Tahap I, pada awal tahun 1973, akan membentuk PT. Mein Contractor yang berlokasi diBatur dengan usaha memproduksi kaki mesin jahit. Dalam hal ini pemerintah berusaha mengawinkan para pengusaha cor logam di Batur sebagai produsen kaki mesin jahit disatu pihak dengan asosiasi-asosiasi pabrik mesin jahit dilain pihak. Dalam kesempatan ini, proyek menitikberatkan pada segi pemasaran  hasil produksi terlebih dahulu. Sedangkan pemerintah ikut didalamnya sebagai pengarah dan pengawas yang dominan. Agaknya hasil mujur belumlah tiba, akhirnya usaha tersebut berkesudahan dengan kegagalan.
  2. Perintisan pemerintah Tahap II, dimulai sekitar awal tahun 1975 dengan bentuk yang berbeda. Pada kesempatan ini ditangani oleh Sub. Proyek Bimbingan dan Pengembangan Industri Kecil (BIPIK) dilingkungan Direktorat Jenderal Industri Logam dan Mesin, atau disingkat dengan Sub.Pro. BIPIK / ILM – Departemen Perindustrian RI. Proyek ini lebih menitikberatkan pada segi peningkatan hasil produksi daripada pemasaran hasil produksinya.

Oleh karena itu bantuan pemerintah diwujudkan dengan seperangkat mesin yang terdiri dari:

  • Mesin Bubut                              18 unit
  • Mesin Frais                                  3 unit
  • Mesin Boor                                  6 unit
  • Generator Set                              4 unit
  • Mesin Asah                                 1 unit
  • Mesin Gerinda                             2 unit
  • Mesin Las Listrik                        1 unit
  • Mesin Las Karbit                         1 unit
  • Mesin Semprot Pasir                   1 unit
  • Mesin Boor Corter                      1 unit

Serta bahan baku yang ditempatkan pada Unit Pemesanan.

Selain itu secara berkala dikirim expert dari Pusat Pengembangan Industri Pengerjaan Logam yang saat ini menjadi Balai Besar Pengembangan Industri Logam dan Mesin (MIDC) Bandung.

Agar bantuan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh pengusaha industry cor logam , maka harus dibentuk wadah yang bisa mencerminkan pasal 33 ayat 1 – UUD 1945 adalah wadah koperasi.

Berkenaan dengan pembentukan wadah atau organisasi pengusaha dimaksud, pejabat-pejabat tingkat Kabupaten Klaten secara serentak mensponsori terbentuknya Koperasi.

Dalam hal ini dilaksanakan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Klaten bersama-sama Kepala Kantor Koperasi Klaten.

Sedang untuk menyerap informasi dan menampung aspirasi para pengusaha cor logam  untuk ikut berpartisipasi dalam proyek yang dimaksud, pemerintah menunjuk beberapa pengusaha yang didudukkan dalam Panitia Kecil yang disebut Team Partisipasi Proyek (TP2) dengan tugas pokok antara lain :

  1. Menyampaikan informasi kepada para pengusaha tentang maksud dan tujuan proyek bantuan pemerintah.
  2. Menggali dana dari pengusaha untuk mewujudkan pengadaan tanah dan gedung sebagai langkah tempat beroperasinya mesin-mesin bantuan pmerintah.

Atas dua idea yang dikombinasikan tersebut, maka tepatnya pada tanggal 23 Juli 1976, bertempat di pendopo Kalurahan Tegalrejo, lahirlah wadah yang dinanti-nantikan oleh para pengusaha yaitu KOPERASI PUSAT PEMESINAN PENGERJAAN LOGAM “BATUR JAYA”.

Pembentukan Koperasi tersebut dicetuskan oleh 94 pengusaha dari 103 yang hadir dan dihadiri pula oleh pejabat-pejabat Kabupaten Klaten dan pejabat dilingkungan Departemen Perindustrian yang direstui oleh Bapak Kepala Sub.Proyek BIPIK / ILM, Kenwil Departemen Perindustrian Jawa tengah, Koordinator Dinas Perindustrian Karesidenan Surakarta, Dinas Perindustrian kabupaten Klaten, Kantor Koperasi Klaten serta Direktur MIDC Bandung.